Bab 1: Dia Hanyalah Setitik Debu
Choo choo! Choo choo!
Sebuah lokomotif uap hitam pekat melaju di atas rel sambil menyemburkan uap putih.
Clang! Clang!
Poros engkol menggerakkan batang penghubung, membuat roda berputar dengan kecepatan tinggi dan menghantam celah rel dalam irama yang teratur.
Tuuuuuut!
Kereta dengan lima gerbong itu keluar dari terowongan menuju lembah pegunungan dan memasuki belantara luas Provinsi Puluo.
Gerbong Milik Keluarga Lu
Di gerbong ketiga, seorang wanita cantik sedang merapikan alis di depan meja rias. Wanita itu adalah Zhuo Yuling, selir kedua Lu Dongliang, kepala Keluarga Lu.
Keluarga Lu merupakan salah satu keluarga paling kaya dan berpengaruh di Puluo. Bahkan kereta uap yang mereka tumpangi adalah milik keluarga tersebut.
Gerbong pertama membawa batu bara, gerbong kedua berisi logistik, gerbong ketiga adalah ruang tamu dan kabin pribadi, gerbong keempat menjadi ruang makan, sedangkan gerbong kelima merupakan kamar tidur pemilik kereta.
Zhuo Yuling mengenakan qipao hijau kebiruan yang anggun. Meski usianya hampir empat puluh tahun, riasan dan pakaiannya membuatnya tampak belum genap tiga puluh.
Rencana Pembunuhan
Pintu gerbong terbuka. Lu Dongliang masuk dengan wajah lelah, melepas jasnya, menuang segelas minuman, lalu menghela napas panjang.
“Besok He Jiaqing akan kembali. Sepertinya keluarga He ingin membatalkan pertunangannya dengan Xiaolan.”
Zhuo Yuling tersenyum tenang.
“Xiaolan tidak akan membiarkan He Jiaqing kembali ke Puluo hidup-hidup.”
He Jiaqing adalah putra sulung Keluarga He dan pemilik harta legendaris Arcane Crimson Lotus. Itulah tujuan sebenarnya Keluarga Lu.
Lu Dongliang masih ragu karena He Jiaqing terkenal sangat berbakat.
“Dia memiliki Arcane Crimson Lotus. Aku khawatir Xiaolan bukan tandingannya.”
Namun Zhuo Yuling menganggap He Jiaqing hanyalah pemuda yang menyia-nyiakan empat tahun hidupnya demi belajar di Huan, bukan demi kultivasi.
Gramofon Bertenaga Uap
Zhuo Yuling berjalan menuju sebuah gramofon tua. Ia menuangkan air, menyalakan bahan bakarnya, dan mesin itu mulai hidup dengan tenaga uap.
Tak lama kemudian lagu favoritnya, Dream Lover, mengalun memenuhi gerbong. Ia memeluk Lu Dongliang dan mengajaknya berdansa perlahan.
Meski begitu, Lu Dongliang masih belum tenang.
“Kalau He Jiaqing mati, bukankah Arcane Crimson Lotus akan hilang di Huan?”
Zhuo Yuling menjawab dengan percaya diri.
“Xiaolan sudah menyelidikinya. Seorang teman He Jiaqing bernama Li Banfeng mengetahui lokasi harta itu.”
Setelah He Jiaqing mati, Xiaolan hanya perlu menemukan Li Banfeng dan memaksanya mengungkap lokasi Arcane Crimson Lotus.
Setitik Debu
Lu Dongliang penasaran siapa sebenarnya Li Banfeng.
“Dia orang seperti apa?”
Zhuo Yuling menatap abu hitam yang jatuh dari gramofon ke kerah suaminya, lalu mengusapnya dengan ujung jari.
“Dia bahkan lebih rendah dari seekor kecoak… Dia hanyalah setitik debu.”
Li Banfeng adalah anak yatim piatu tanpa keluarga. Ia dibesarkan di panti asuhan dan bekerja mengangkat batu bata, memanggul karung, hingga berjualan di jalan demi membayar biaya kuliah.
Menurut Zhuo Yuling, jika orang seperti itu mati, tak akan ada seorang pun yang peduli.
Ia meniup pelan abu di ujung jarinya hingga menghilang tertiup angin.
Keesokan Hari
Asrama 606, Universitas Yuezhou, Negara Huan.
Li Banfeng sedang tidur siang dan bermimpi berada di atas kapal pesiar mewah bersama sekelompok wanita cantik.
Ketika mimpi indahnya mencapai puncak, sebuah suara putus asa tiba-tiba menggema di telinganya.
“Banfeng… Selamatkan aku!”
Tamat Bab 1

Komentar